Susunan Ayat dan Surah Al Quran

maharah, kursus arab, quran

SUSUNAN AYAT

A. Ijmak dalam susunan ayat

Para ulama sepakat bahwa susunan atau peletakan ayat Al quran sebagaimana yang kita lihat saat ini adalah bersifat tawqifi (langsung dari Allah), bukan hasil ijtihad siapapun. Susunan itu kemudian diturunkan kepada Jibril lalu disampaikan kepada nabi Muhammad saw. Begitu juga ketika membacakan setiap ayat kepada para sahabat dan memerintahkan penulisannya kepada juru tulis wahyu rasul selalu mengintruksikan agar setiap ayat itu diletakkan dan disusun sesuai petunjuk dari Allah swt melalui Jibril.

Susunan ini selalu terjaga setiap waktu termasuk pada saat pengumpulan lembaran-lembaran wahyu di zaman Abu Bakar dan penyatuan mushaf di zaman Utsman bin Affan.

Ijmak (kesepakatan) ini tidak lagi diragukan sebagaimana disampaikan oleh Imam Azzarkasyi dalam kita Al Burhan fi Ulumil quran, dan Imam Abu Ja’far dalam kitab Al Munasabat.

Banyak riwayat shahih yang menguatkan kesepakatan ini. Diantaranya adalah riwayat Umar ra bahwa ia berkata : Tidaklah aku banyak bertanya tentang sesuatu kepada rasul melebihi pertanyaanku tentang pembagian harta waris kalālah (mayit yang tidak meninggalkan bapak dan anak), sampai-sampai beliau menekankan jarinya ke dadaku lalu bersabda : “cukuplah bagimu ayat asshoif (ayat yang diturunkan di musim panas) yang terdapat di akhir surah Annisa.” (H.R. Muslim)

Perhatikanlah bagimana rasul mengisyaratkan peletakan ayat tersebut di surah Annisa. Ini menunjukkan bahwa peletakan dan susunan ayat Al quran bersifat tawqifi.

B. Jumlah ayat

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa jumlah ayat Al quran adalah 6000 (enam ribu) dan jumlah hurufnya 321180 (tiga ratus dua puluh satu ribu seratus delapan puluh).

SUSUNAN SURAH

A. Makna surah

Surah adalah kumpulan ayat Al quran yang memiliki permulaan dan akhir, memiliki potongan-potongan ayat dan terpisah dengan kumpulan-kumpulan ayat yang lain.

Surah Al quran memiliki perbedaan antara satu dengan yang lainnya dalam pendek dan panjangnya. Surah terpendek adalah surah Al Kautsar, yaitu 3 ayat, dan surah yang terpanjanga dalah surah Al Baqarah, yaitu 285 atau 286 ayat.

B. Pembagian Surah

Atthuwāl : surah-surah yang panjang, yaitu Al Baqarah, Āli Imrān, Annisā, Al Māidah, Al An’ām, Al A’rāf. Adapun yang ketujuh terjadi perbedaan pendapat para ulama. Ada yang berpendapat surah Al Anfāl beserta Attaubah, dan ada pula yang berpendapat surah Yūnus.

Al Miūn surah-surah yang jumlah ayatnya seratusan atau mendekati.

Al Matsāni : surah-surah yang kurang dari serratus.

Al Mufasshol : surah-surah yang antara satu dengan yang lainnya berdekatan (karena pendek-pendek) sehingga banyak dipisah dengan basmalah, yaitu dari surah Al hujurāt sampai Annās.

C. Pendapat ulama tentang susunan surah

Pendapat pertama : susunan surah sebagaimana yang kita lihat saat ini tidaklah bersifat tawqifi. Ia disusun berdasarkan ijtihad para sahabat. Ini adalah pendapat mayoritas para ulama, diantaranya Imam Malik, Al qadhi Abu Bakar.

Dalil pendapat pertama adalah mushaf-mushaf yang ada di tangan para sahabat berbeda-beda susunan surahnya sebelum disatukan di masa Utsman bin Affan. Jika susunan surah itu bersifat tawqifi maka mustahil para sahabat menyelisihi dengan ijtihad mereka masing-masing.

Mushaf Ubay bin Ka’ab dimulai dengan surah Al Fatihah, Al Baqarah, Annisa, Ali Imran, dan Al An’am.

Mushaf Abdullah ibn Mas’ud dimulai dengan surah Al Baqarah, Annisa, Ali Imran.

Mushaf Ali bin Abi Thalib disusun sesuai urutan turunnya, yaitu dimulai dengan surah iqra, Al Muddatsir, qaf, Al Muzammil, Al Lahab, Attakwir, dst.

Pendapat kedua : susunan surah bersifat tawqifi sebagaimana susunan ayat. Ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh Imam Abu Ja’far Annuhas dan Imam Abu Bakar Al Anbari.

Dalil pendapat kedua adalah bahwa para sahabat bersepakat atas susunan surah dalam mushaf yang ditulis pada masa Utsman bin Affan. Kesepakatan ini menunjukkan bahwa susunan itu bersifat tawqifi. Karena jika bersifat ijtihadi tentulah mereka akan berpegang pada susunan masing-masing.

Pendapat ketiga : susunan sebagaian surah besifat tawqifi dan susunan sebagian yang lain bersifat ijtihadi.

Kesimpulan

Terlepas dari perbedaan pendapat yang ada maka perlu kami tekankan bahwa dalam masalah penulisan mushaf wajib mengikuti susunan surah yang berlaku saat ini. Karena inilah susunan yang disepakati oleh para sahabat sejak masa penyatuan mushaf di zaman Utsman bin Affan. Tidak adanya pengingkaran dari para sahabat menunjukkan ijmak, dan ijmak adalah hujjah yang wajib ditaati.

Adapun dalam masalah bacaan maka tidak ada kewajiban untuk membaca surah secara berurutan. Seseorang boleh membaca surah Al fatihah, lalu esok hari ia membaca Attakwir, dst. Namun membaca secara berurutan sampai khatam sangatlah dianjurkan sebagaimana dijelaskan oleh Imam Annawawi dalam kitab Attibyan.

Yang diharamkan adalah membaca satu surah secara terbalik. Misal membaca Al Fatihah dimulai dari ayat terakhir menuju ayat sebelumnya sampai ayat pertama.

Ardi Budiman

Diringkas dari kita Al Hadits fi Ulumil Quran wal Hadits, Syeikh Hasan Ayyub

One thought on “Susunan Ayat dan Surah Al Quran


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *